Dicari-cari ...

Tuesday, December 18, 2012

Pengetahuan Remaja Indonesia mengenai HIV/AIDS


Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini, remaja sedang berusaha untuk mencari identitas dirinya. Pencarian identitas ini dapat dilihat dari beberapa perubahan, salah satunya perubahan mengenai perilaku dalam kesehatan reproduksi.
Saat ini, perilaku kesehatan reproduksi remaja sudah mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012, jumlah penderita HIV di Indonesia yang berasal dari usia 15-24 adalah 1,706 jiwa. HIV akan terdeteksi setelah kurang lebih 10 tahun, sehingga berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa penularan HIV bermula pada usia sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas (12-17 tahun).
Timbulnya masalah mengenai HIV-AIDS disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kurangnya pengetahuan remaja mengenai HIV/AIDS (Lawrence Green, 1993). Tingkat pengetahuan remaja usia 15-24 tahun mengenai HIV-AIDS dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tingkat Pengetahuan Remaja Berumur 15-24 Tahun
Mengenai HIV-AIDS (BPS- SDKI, 2012)
Tingkat Pengetahuan Remaja Mengenai:
Laki-Laki
Perempuan
IKG
HIV
84,00
77,00
0,64

Minimnya pengetahuan remaja mengenai HIV-AIDS disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah persepsi orang tua terhadap pendidikan seks yang berkaitan dengan HIV-AIDS. Orang tua atau lingkungan keluarga merupakan landasan dasar dalam membentuk kepribadian anak (Gunarsa,1993). Pendidikan seks merupakan upaya memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis dan psikososial sebagai akibat dari pertumbuhan dan perkembangan manusia dengan menanamkan nilai moral, etika dan komitmen agama (Thera, 2000). Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak dini dengan terencana sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama saat anak menjelang usia remaja, dimana proses kematangan fisik dan mental mulai berkembang dewasa (Djiwandono, 2001).
Selain itu, banyak stigma yang berkembang dalam masyarakat bahwa informasi mengenai seks yang berkaitan dengan HIV-AIDS adalah sesuatu yang cenderung negatif dan tidak layak untuk dibicarakan kepada remaja. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman tentang pendidikan seks remaja. Pendapat ini juga diungkapkan oleh Rahmat (1992) dan Habsyah (1996) yang mengemukakan bahwa pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Disamping itu, pandangan orang tua yang sempit dalam memahami agama terhadap pendidikan seks juga dapat mempengaruhi persepsi negatif pada orang tua tersebut (Widjanarko, 1999).
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa saat ini tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh remaja usia 15-24 tahun masih rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan mengenai HIV-AIDS ini menyebabkan terjadinya perilaku seks bebas yang dapat menimbulkan terjadinya penularan HIV-AIDS pada remaja. HIV-AIDS belum ada obatnya, sehingga diperlukan suatu pencegahan, salah satunya melalui pemberian informasi dan pembangunan paradigma dalam masyarakat bahwa pendidikan mengenai HIV-AIDS bukan sesuatu yang tidak layak diberikan kepada remaja.

No comments: