Remaja
merupakan masa peralihan antara masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa
ini, remaja sedang berusaha untuk mencari identitas dirinya. Pencarian
identitas ini dapat dilihat dari beberapa perubahan, salah satunya perubahan
mengenai perilaku dalam kesehatan reproduksi.
Saat ini, perilaku
kesehatan reproduksi remaja sudah mengkhawatirkan. Berdasarkan data dari Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia tahun 2012, jumlah penderita HIV di Indonesia yang
berasal dari usia 15-24 adalah 1,706 jiwa. HIV akan
terdeteksi setelah kurang lebih 10 tahun, sehingga berdasarkan data tersebut
dapat disimpulkan bahwa penularan HIV bermula pada usia sekolah menengah
pertama dan sekolah menengah atas (12-17 tahun).
Timbulnya masalah mengenai HIV-AIDS disebabkan oleh beberapa
faktor, salah satunya adalah kurangnya
pengetahuan remaja mengenai HIV/AIDS (Lawrence Green, 1993). Tingkat
pengetahuan remaja usia 15-24 tahun mengenai HIV-AIDS dapat dilihat pada tabel
4.1.
Tingkat Pengetahuan
Remaja Berumur 15-24 Tahun
Mengenai HIV-AIDS (BPS-
SDKI, 2012)
|
Tingkat
Pengetahuan Remaja Mengenai:
|
Laki-Laki
|
Perempuan
|
IKG
|
|
HIV
|
84,00
|
77,00
|
0,64
|
Minimnya pengetahuan remaja mengenai
HIV-AIDS disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah persepsi orang
tua terhadap pendidikan seks yang berkaitan dengan HIV-AIDS. Orang tua atau
lingkungan keluarga merupakan landasan dasar dalam membentuk kepribadian anak
(Gunarsa,1993). Pendidikan seks merupakan upaya memberikan pengetahuan tentang
perubahan biologis dan psikososial sebagai akibat dari pertumbuhan dan
perkembangan manusia dengan menanamkan nilai moral, etika dan komitmen agama
(Thera, 2000). Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak dini dengan terencana
sesuai pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama saat anak menjelang usia
remaja, dimana proses kematangan fisik dan mental mulai berkembang dewasa
(Djiwandono, 2001).
Selain itu, banyak stigma yang
berkembang dalam masyarakat bahwa informasi mengenai seks yang berkaitan dengan
HIV-AIDS adalah sesuatu yang cenderung negatif dan tidak layak untuk
dibicarakan kepada remaja. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan dan
pengalaman tentang pendidikan seks remaja. Pendapat ini juga diungkapkan oleh
Rahmat (1992) dan Habsyah (1996) yang mengemukakan bahwa pengalaman masa lalu
dapat mempengaruhi persepsi seseorang. Disamping itu, pandangan orang tua yang
sempit dalam memahami agama terhadap pendidikan seks juga dapat mempengaruhi
persepsi negatif pada orang tua tersebut (Widjanarko, 1999).
Berdasarkan beberapa penjelasan
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa saat ini tingkat pengetahuan yang dimiliki
oleh remaja usia 15-24 tahun masih rendah. Rendahnya tingkat pengetahuan
mengenai HIV-AIDS ini menyebabkan terjadinya perilaku seks bebas yang dapat
menimbulkan terjadinya penularan HIV-AIDS pada remaja. HIV-AIDS belum ada
obatnya, sehingga diperlukan suatu pencegahan, salah satunya melalui pemberian informasi
dan pembangunan paradigma dalam masyarakat bahwa pendidikan mengenai HIV-AIDS
bukan sesuatu yang tidak layak diberikan kepada remaja.
No comments:
Post a Comment