Postingan kali ini, saya akan
membahas mengenai saya dan dunia kaum disabilitas atau yang lebih sering saya
sebut 'anak berkebutuhan khusus'. :)
Percayakah anda bahwa saya sudah
meraih salah satu impian dalam hidup saya karena anak berkebutuhan khusus???
Mungkin banyak yang tidak percaya dan berpikir saya ini gila atau berpikir saya
merupakan seorang mahasiswa jurusan pendidikan khusus. Tidak, saya adalah
seorang anak sekolah menengah atas dan saya juga lebih tertarik untuk
melanjutkan kuliah di bidang pendidikan. Meskipun begitu, saya tidak dapat
membohongi kehidupan ini bahwa salah satu impian saya memang telah terwujudkan
karena anak berkebutuhan khusus.
Berkali-kali saya mengikuti
lomba karya tulis, berkali-kali saya hanya lolos final dan kalah. Kemudian,
saya berpikir "Kapan saya dapat mencapai impian saya untuk menjadi juara
1?" Sebentar lagi saya akan lulus SMA dan saya ingin menutup masa SMA ini
dengan sebuah prestasi. Akhirnya, Tuhan menjawab pertanyaan saya tersebut. Saya
berhasil menjadi juara 1 dalam suatu lomba karya tulis dan ini semua berkat
Tuhan yang Tuhan wakilkan melalui anak berkebutuhan khusus di Kota Probolinggo.
Selain itu, lomba ini juga yang mengenalkan saya terhadap dunia anak
berkebutuhan khusus, khususnya di bidang pendidikan.
Saat itu, tema lomba karya tulis
saya adalah mengenai pelayanan publik. Seperti biasanya, saya bingung
menentukan permasalahan yang akan saya bahas. Kemudian, saya teringat ucapan
salah seorang teman saya yang berkata, "Aku ntar mau ngelanjutin kuliah di
pendidikan khusus". Iseng, saya mencari informasi mengenai pendidikan
khusus di google. Akhirnya, saya teringat dengan sekolah luar biasa yang ada di
kota saya. Jujur, saat itu saya tidak tahu dimana letak SLB tersebut. Saya
hanya tahu nama jalannya saja. Setelah itu, saya mencoba mencari informasi
mengenai SLB di kota saya terhadap beberapa sumber terpecaya. Ternyata, masih
terdapat beberapa permasalahan dalam dunia pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus. Berikut adalah permasalahan dalam dunia pendidikan khusus yang saya
tuliskan dalam karya tulis saya:
1. Tenaga Pendidik Lulusan Pendidikan Luar Biasa
Saat
ini, jumlah tenaga pendididik untuk pendidikan luar biasa di Kota Probolinggo
hanya 35 orang. Dari 35 tenaga pendidik tersebut, hanya 75% yang merupakan
sarjana lulusan pendidikan luar biasa. Sedangkan 25% yang lain, rata-rata hanya
sarjana lulusan pendidikan S1 atau psikologi. Adapun tenaga pendidik bagi
sekolah luar biasa yang ada di Kota Probolinggo hanya berasal dari pendidikan
luar biasa jurusan tunanetra dan tunamental saja. Saat ini, tenaga pendidik
jurusan tunarungu dan tunadaksa masih belum tersedia. Hal ini menyebabkan,
tenaga pendidik harus mampu mengembangkan kemampuannya di bidang yang lain.
Sebagai contoh, seorang tenaga pendidik jurusan tunanetra harus mampu
mengembangkan kemampuannya di bidang tunamental, tunarungu, dan tunadaksa karena
minimnya jumlah tenaga pendidik.
Adapun
pola pengajaran di sekolah luar biasa adalah secara individual. Oleh karena
itu, standart pengajaran di sekolah luar biasa adalah 1:5. Maksud dari 1:5
adalah, satu orang guru wajib mengajar lima orang murid berkebutuhan khusus
secara individual. Namun, karena minimnya jumlah tenaga pendidik bagi anak
berkebutuhan khusus di Kota Probolinggo, maka saat ini jumlah murid dalam satu
kelas tidak lagi lima orang melainkan lebih dari itu. Terkadang, untuk
mengatasi permasalahan tersebut maka sekolah luar biasa membagi jadwal
pengajaran menjadi dua gelombang yaitu gelombang pagi dan gelombang siang.
Berikut adalah contoh pola duduk pada suatu kelas di Taman Kanak-Kanak Luar
Biasa Kota Probolinggo yang terdiri dari satu anak tunanetra, dua anak
tunadaksa, dan satu anak yang mengalami tunarungu serta tunamental.
2. Peningkatan Kualitas Guru
Berdasarkan
hasil wawancara yang telah dilakukan, didapatkan hasil bahwa umumnya yang
mengadakan pelatihan bagi para pendidik anak berkebutuhan khusus di Kota
Probolinggo adalah Pemerintah Provinsi atau Pemerintah Pusat. Jumlah tenaga
pendidik sekolah luar biasa di Kota Probolinggo menjadi salah satu alasan
terkait minimnya pelatihan atau workshoop terhadap pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus dari Pemerintah Kota Probolinggo. Hal ini, secara tidak
langsung dapat mempengaruhi kualitas dari tenaga pendidik di sekolah luar biasa
padahal seharusnya kualitas sekolah luar biasa sama dengan kualitas sekolah
pada umumnya.
3. Sekolah Luar Biasa dengan Status Negeri
Pemerintah
telah menetapkan standar bahwa seharusnya ada satu sekolah luar biasa berstatus
negeri di suatu kota. Namun, sekolah luar biasa yang ada di wilayah Kota
Probolinggo saat ini masih berstatus sekolah swasta. Hal ini dapat menyulitkan
pemerintah dalam memberikan bantuan dana operasional sekolah dan juga
pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) bagi tenaga pendidik di sekolah luar
biasa.
4. Fasilitas untuk Pendidikan Khusus
Selain
pendidikan formal, di sekolah luar biasa juga diberikan pendidikan khusus. Anak
berkebutuhan khusus nantinya akan dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a.
Kategori A: Untuk anak Tunanetra, adapun pendidikan khusus yang diberikan yaitu
pengelnalan terhadap huruf Braille serta pengenalan diri terhadap lingkungan sekitar.
b.
Kategori B: Untuk anak Tunarungu dan Tunawicara, adapaun pendidikan khusus yang
diberikan yaitu pengenalan terhadap bunyi bagi anak tunarungu dan isyarat bagi
anak tunawicara.
c. Kategori
C: Untuk anak Tunamental, adapun pendidikan yang diberikan adalah pendidikan
mengenai cara merawat dan menolong diri.
d. Kategori
D: Untuk anak Tunadaksa, adapun pendidikan khusus yang diberikan yaitu melalui
fisioterapi untuk melatih saraf tubuh yang mungkin masih dapat berfungsi.
e. Kategori
Kategori Autis: Untuk anak Autis, adapun pendidikan khusus yang diberikan yaitu
melalui pemberian pelajaran melalui kontak mata.
Dalam
pemberian pelajaran khusus bagi anak berkebutuhan khusus, diperlukan beberapa
ruang khusus. Namun, sekolah luar biasa yang ada di kota Probolinggo masih
belum memiliki ruang khusus tersebut seperti ruang fisioterapi dan ruang untuk
melatih merawat dan menolong diri. Untuk ruang khusus bagi anak tunarungu atau
ruang kedap suara, saat ini hanya dimiliki oleh tingkat Sekolah Dasar (SDLB)
saja.
Selain
ruang khusus, terdapat pula beberapa fasilitas yang kurang lengkap salah
satunya fasilitas perpustakaan. Saat ini, buku bacaan Braille yang ada di
perpustakaan sekolah luar biasa masih sedikit sehingga para pendidik harus
membuat sendiri cerita tersebut dengan menggunakan mesin ketik Braille. Alat
berhitung bagi tunanetra pun masih terbatas, sekolah luar biasa yang ada di
Kota Probolinggo belum memiliki alat hitung berupa blokies. Umumnya, anak
berkebutuhan khusus yang mengalami tunanetra di Probolinggo menghitung
menggunakan sempoa. Menurut hasil wawancara terhadap seorang wali
murid di Taman Kanak-Kanak Luar Biasa (TKLB), saat ini fasilitas perpustakaan
berupa alat permainan yang memicu saraf motorik anak masih sangat kurang.
Saat
itu, saya hanya mendapatkan informasi melalui wawancara dan bukan melalui
observasi. Saya belum sempat melihat secara langsung bagaimana keadaan SLB di
kota saya karena saat itu adalah waktu libur. Beberapa hari kemudian, ternyata
karya saya lolos final dan saya harus mempresentasikan karya saya. Hal inilah
yang memaksa saya untuk berkunjung ke SLB meskipun hanya satu jam. Satu jam
berada di SLB adalah waktu yang sangat mengubah sebagian hidup saya. Saat itu,
itu adalah kali pertama saya benar-benar tahu dimana SLB berada dan pertama
kalinya saya melangkahkan kaki di SLB. Rasanya, saya sungguh tersinggung.
Adik-adik yang berada di SDLB serta TKLB tersebut mempunyai semangat yang
tinggi untuk memperoleh pendidikan. Mereka tetap bersekolah seperti anak pada
umumnya meskipun mereka memiliki keterbatasan. Mereka tetap berprestasi
meskipun mereka memiliki keterbatasan. Saya sungguh malu, terkadang, saya yang
memiliki tubuh serta pikiran yang normal sering menghabiskan hari-hari dengan
tidak penuh semangat.
Selain
itu, saya juga bisa melihat secara langsung bagaimana kondisi pendidikan di SLB
tersebut. Masih ada beberapa kekurangan dan apabila kekurangan tersebut
dibiarkan tentunya akan mempengaruhi kualitas pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus. Namun, berbagai kekurangan tersebut tidak pernah membuat para guru di
SDLB dan TKLB tersebut patah semangat untuk mengajar para anak berkebutuhan
khusus. Para guru tersebut selalu berupaya untuk menutupi kekurangan tersebut,
bahkan terdapat seorang guru yang rela membuat sebuah buku cerita Braille dengan
tangannya sendiri tanpa menggunakan bantuan mesin karena tidak adanya sarana
tersebut. Hal inilah, yang membuat semangat saya semakin bertambah. Pikiran
saya bukan menang atau kalah melainkan saya ingin menyampaikan salah satu
permasalah yang sering dianggap remeh, termasuk oleh pemerintah yaitu
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Saya berupaya untuk mempresentasikan
karya saya dengan baik. Sekali lagi, saya tidak peduli dengan menang atau
kalah. Saya hanya ingin pemerintah melakukan beberapa peningkatan terhadap
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus karena siapa lagi yang akan
memperhatikan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus kalau bukan
pemerintahnya sendiri. Akhirnya, saya bersyukur kepada Tuhan sebab karya saya
ini bisa menjadi juara 1. Namun, saya tidak peduli dengan predikat juara 1
tersebut! Saya merasa senang karena bisa membantu adik-adik serta teman-teman
saya yang berada di SLB. Sekolah saya dan SLB itu sama, sama-sama sekolah
sehingga SLB juga berhak memperoleh beberapa fasilitas dalam peningkatan
pendidikan. Semenjak saat itulah, saya mulai memasukkan anak berkebutuhan
khusus dalam kehidupan saya salah satunya mengubah pola piker teman-teman
sebaya saya mengenai anak berkubutuhan khusus dan dunia pendidikan. Saya juga berharap bahwa saya terus memperhatikan kehidupan anak berkebutuhan khusus dan tidak memperhatikan mereka apabila ada maunya saja.
Ingat!!! Anak berkebutuhan khusus juga warga negara Indonesia dan juga berhak memperoleh pendidikan!!! Mereka juga manusia!!! Mereka adalah temanmu juga!!! Jangan singkirkan mereka dalam kehidupanmu!!! :)