Remaja merupakan generasi penerus bangsa serta penentu nasib
bangsa di masa mendatang. Kualitas remaja yang rendah dapat
berakibat pada kehancuran bangsa. Apabila saat ini banyak remaja
yang rusak dan tidak berkualitas maka akan berdampak pada masa mendatang. Oleh
karena itu, diharapkan orangtua, pendidik dan para remaja dapat mempertahankan
kualitasnya (Lestari, 2007).
Pada masa remaja
terjadi masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa
dewasa. Selain
itu, Hurlock (1992) juga memberikan pendapat bahwa pada masa ini, remaja ingin
diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Dalam masa ini, remaja ingin
mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, di samping ingin tahu
mengenai dirinya sendiri.
Salah satu bentuk pencarian identitas remaja terkait masalah
kesehatan adalah perilaku seks bebas. Pada masa ini, remaja cenderung belum
mengetahui dampak dari hubungan seksual yang bebas. Freud (2002)
menyebutkan salah satu dampak dari pergaulan seks bebas adalah penyakit seksual
menular seperti Human Immunodeficiency Virus (HIV) atau Acquired Immune Deficiency
Syndrome (AIDS).
HIV atau Human
Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh
manusia. Umumnya, HIV menular melalui gaya hidup yang bebas, salah satunya
melalui hubungan seksual. HIV dapat menyebabkan beberapa dampak yang berbahaya
bagi kesehatan penderita, salah satunya dapat menyebabkan kematian apabila
sistem imunitas penderita tidak dapat bertahan melawan suatu jenis penyakit. Di
samping itu, saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penderita
HIV secara total.
HIV belum ada obatnya serta dapat menimbulkan kematian, namun
jumlah penderita HIV di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan
data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah penderita HIV di
Indonesia untuk tahun 2012 adalah 9,883 jiwa. Dari seluruh jumlah penderita
HIV di Indonesia, 15% atau 1,706 jiwa diantaranya adalah remaja berusia 15-29
tahun.
Menurut Lawrence Green (1993), masalah ini
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya remaja tentang
HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan ini mengakibatkan penularan dan pencegahan
penyakit tersebut tidak dapat diketahui. Selain itu, saat ini masih terdapat
beberapa pendapat bahwa informasi mengenai
HIV-AIDS masih belum layak untuk disampaikan kepada kalangan remaja.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka upaya pencegahan
penyebaran HIV-AIDS dapat dilakukan melalui peningkatan pendidikan mengenai
HIV-AIDS. Oleh karena itu penulis mengambil judul “Permainan
Ular tangga berbasis Teens HIV-AIDS
Education (THE): Pencegahan Masalah HIV-AIDS pada Remaja” dalam
“Airlangga Medical Scientific Week” tahun
2012 yang diadakan oleh Universitas Airlangga Fakultas Kedokteran. Permainan
“Ular Tangga berbasis Teens HIV-AIDS
Education (THE)” merupakan
inovasi dari permainan ular tangga yang digabungkan dengan beberapa pengetahuan
umum mengenai HIV-AIDS yang perlu diketahui oleh kalangan remaja. Pemilihan
metode sosialisasi melalui media permainan dilakukan karena saat ini siswa
cenderung lebih tertarik terhadap metode pembelajaran “Game Education” atau belajar sambil bermain.
No comments:
Post a Comment